Senin, 21 Januari 2019

Tentang Hari Ini

Inilah hidup.

Tempat yang tidak selalu rata. Kadang naik, kadang turun.

Tempat di mana kadang kau berlari, tak jarang kau harus merangkak.

Tempat di mana kau kadang mendaki, kadang pula harus jatuh.

Hal baik memang tidak selalu datang, tapi hal buruk juga tidak tidak akan terlalu sering terjadi.

Boleh lelah, tapi jangan menyerah.

Terima kasih, sudah berjuang hari ini.



Senin, 24 September 2018

Agar Tak Melewatkanmu



Jika aku memilih pagi sebagai awal sajak,
Entah bisakah membuat dingin di sisimu bergerak?
Memberi jarak,
Membiarkan hangat menyisip ke relungmu, menyunggingkan senyummu sejenak.

Jika kupilih senja sebagai pengisi puisi,
Entah bisakah membuat warnamu merona?
Meski tersamar semu merah yang dipantulkan sore pada wajahmu.

Jika kupilih malam sebagai penutup prosa,
Barangkali kah menerbangkanmu pada mimpi terindah?
Sedangkan kau mengaku takut dijatuhkan.
Sedangkan di harapku,
Kau satu-satunya yang ingin kumenangkan.
Sedangkan di lain sisi,
Kuasaku tak lebih dari segenggam doa lirih,
Pada kuasa paling kuasa
Agar tak melewatkanmu kali ini.

Senin, 10 September 2018

Simulasi Seandainya


Berada dalam fase galau karena asmara kadang membuatmu terlihat seperti orang bodoh. Hanya karena masalah hati, kau terlihat nyaris seperti ingin mati. Tatap matamu kosong, senyummu palsu, langkahmu gontai, seolah ragamu hanya seonggok daging yang ditinggalkan jiwanya.

Kau merayakan malam dengan ratapan-ratapan. Memegangi dada yang sesak didesak ingatan. Suaramu terkatup menahan jerit perih karena tak ingin seorangpun tau -terlebih jika kau laki-laki, bahwa kau sedang menangis.

Lalu hari demi hari kau larut dalam segala bentuk tanya kenapa? Mengapa? Hingga jutaan simulasi yang kau mulai dengan 'seandainya'.

Kamis, 23 Agustus 2018

Ke Mana Kata-kata Bermuara?

Lagi-lagi.
Tengah malam yang tidak juga menghadirkan lelap ke pelupuk mata membuatku mencari cara untuk melarikan jaga. Sejurus kemudian terlintas sejumput ruang yang pernah kubangun dengan kata-kata, namun mulai jarang terisi sebab... ya.. agak malas saja.

Barangkali kau mengharap kata-kata rindu yang mendayu-dayu perihal tetap terjaganya sadarku. Barangkali kau berharap menemukan seteguk sendu yang sama denganmu, yang sulit kau ungkap namun terwakilkan oleh diksiku.

Maaf..

Kali ini bukan.

Bukan rindu alasanku tetap terjaga. Bukan bayangnya yang membuat mataku tak lelap jua. Melainkan sebab kopi keparat yang belum genap habis di gelas kedua.

Jika kau mencoba menerka ke mana arah kata-kata ini bermuara, mohon terima saja apa adanya.

Ekspektasimu keduwuren, le. Aku tidak sepuitis itu.

Selamat malam.

Rabu, 11 Juli 2018

Barangkali

Barangkali banyak diantara kita yang juga bertanya-tanya: "Kenapa harus hadir, jika hanya untuk pergi dan meninggalkan bekas luka? Apalagi sampai berusaha kembali dengan untaian janji yang kemudian diingkari sendiri. Seolah yang tengah dibuai kemudian ditinggal ini tidak punya hati."

Sepupu saya pernah bercerita beberapa waktu lalu mengenai hal ini. Meminta pendapat saya sebagai lelaki yang sambil memberi tekanan dia mengucapkan kalimat sakti para perempuan: "Kenapa sih, semua cowok sama aja!?"

Jika harus saya tanggapi, sebagai laki-laki, barangkali saya juga tidak cukup baik. Walau ketika sesuatu jalinan telah berakhir, maka bagiku cukup. Jika saya yang mengakhirinya lebih dulu, maka tak akan ada ucapan manis meminta temu untuk merengek meminta rasa kembali menyatu. Kejam? Memang.

Lalu pertanyaan sepupu saya tadi hanya saya jawab dengan senyum. Setelah ia selesai dengan gerutu-gerutunya, baru kutemukan momen untuk memberi tanggapan.

"Tidak semua lelaki itu sama. Buktinya, kamu bertemu dengan yang sekarang. Dia. Mas mu yang sudah siap sedia meminang."

Tentu saja tidak sepuitis itu. Cuma intinya sama.

Bagi saya. Kita memang dan pasti akan dihadapkan dengan sekian pilihan dan ditakdirkan untuk membuat pilihan yang salah. Dan pilihan-pilihan itu akhirnya mengantarkan kita kepada sebuah tujuan yang barangkali sudah Tuhan janjikan jika kita tidak menyerah. Tidak menyerah pada janji-Nya. Bahwa pada akhirnya semua akan baik, jika kita mengikuti arah-Nya dan bersabar menjalaninya.

Sebagai penutup, ijinkan saya menulis ulang sebuah tweet yang pernah saya bagikan, entah kapan.

"Barangkali aku mengetuk banyak pintu sebelumnya. Ketika satu pintu dibuka olehmu, tak akan kucari pintu lainnya."

Rabu, 21 Maret 2018

Hello, Good bye

Halo...
Goodbye...
Halo...

Sudah cukup lama sejak terkahir kali saya menulis lagi di blog. Dengan segudang harapan bahwa saya bisa menulis banyak hal, nyatanya malah sangat jarang update. Maafqan aqu..

Tiga kata di awal tulisan ini adalah penggalan lagu Original Soundtrack sebuah film Anime bajakan yang sudah saya tonton entah berapa bulan yang lalu. Cerita filmnya sendiri sebetulnya cukup ringan. Premisnya sederhana. Hanya dibalut sama Sci-fi fantasi. Saya nggak akan bahas soal filmnya karena saya percaya ada orang yang lebih mumpuni untuk bikin riview. Saya mah apa. Bokong panci.

So! Kenapa saya memasukkan tiga kata tersebut? adalah karena sedang kepikiran aja.

Mungkin sebenarnya hidup kita hanya berputar pada urutan tiga kata di awal tulisan ini.

Halo... Goodbye... Halo...

Sebuah siklus yang sudah kita jalani sejak kita lahir, dan akan terus kita alami sampai kita mati. Seperti kata orang-orang. Ada pertemuan, ada perpisahan. Oleh takdir, kadang kita dipertemukan dengan hal-hal menyenangkan. Kadang juga kita nggak sengaja, bahkan dipaksa untuk bertemu dengan hal yang tidak kita inginkan. Dan kita harus menerima saat berpisah dengan hal-hal yang membuat hidup kita menyenangkan.

Seperti yang saya utarakan tadi. Siklus itu akan berulang sepanjang kita hidup. Siap tidak siap, sejatuh apapun kita saat mengalami perpisahan, kita akan mengalami lagi siklus pertemuan. Entah bagaimana bentuk pertemuan yang selanjutnya itu. Namun itulah bukti kalau waktu masih konsisten menjalankan tugasnya untuk terus bergerak.

I've been there before. Ya mungkin kehilangan yang saya alami tidak seberapa dibanding bebrapa dari kamu yang mungkin kebetulan nyasar ke sini. Saya berharap kamu akan jadi lebih tangguh untuk bersiap menghadapi pertemuan selanjutnya. Kemungkinan terluka lagi? tidak dipungkiri kalau itu ada. Namun jangan biarkan hal itu membuatmu lupa, bahwa di sana ada peluang untuk bahagia yang sama persentasenya.

Lagi pula, saya rasa kedua hal itu seperti dua sisi pada satu koin yang sama. Pada pertemuan selanjutnya kamu mungkin saja akan mengalami keduanya bergantian. Toh hidup juga memang tidak selalu berjalan bagus-bagus saja.

Melalui tulisan ini, saya berharap untuk diri saya sendiri agar tidak lagi takut pada hal apapun yang akan terjadi pada waktu mendatang. Agar tidak takut memulai hal yang diinginkan. Agar tidak takut melangkah. Dan jika kamu merasakan hal yang sama, maka jadikan ini harapanmu juga. Semoga, dan mari aminkan bersama.



Kamis, 08 Februari 2018

Jika Boleh



Melihat ke belakang. Walau beberapa masih meninggalkan penyesalan, namun lebih banyak hal mebuatku bersyukur. Sebab dengan melewati semua hal itu, aku bertemu dengannya.

Tentu, aku bukan sosok yang baik seutuhnya. Aku bahkan sempat takut menghadapi diriku sendiri hingga akhirnya dia memberiku ruang untuk jadi lebih berani. Walau tak sempurna. Walau masih terbata. Sedikit demi sedikit aku mulai menata hidupku kembali.

Jika kau minta aku bercerita tentang apa istimewanya dia, jujur saja... Aku tidak tahu. Sejauh yang kukenal, dia adalah orang yang tidak suka diam berlama-lama. Dia selalu membuatku ingin mendengarnya bercerita walau bebrapa ceritanya sudah dia ceritakan beberapa kali. Tapi aku masih betah mendengarkan tuturnya.

Dia selalu antusias mencoba hal baru, walau beberapakali selalu mangkrak di tengah jalan. Dia gampang bosan. Tidak stylish dalam hal berpakaian. Untuk beberapa hal, aku dan dia sangat berlawanan.

Kuakui ini bukan akhir perjalanan. Aku juga masih tidak tahu kemana kami akan dihantarkan waktu. Hanya saja jika boleh... Jika boleh...

....